LEGENDA CERITA KOTA SURAKARTA

Ikon

PANGERAN SAMODRA

Legenda Pangeran Samodra dikenal pula sebagai legenda Gunung Kemukus. Adapun sumber utamanya adalah sebuah makam keramat yang ter­letak di desa Pendem, Kecamatan Sumber Lawang, Kabupaten Sragen, 26 kilometer dari . Gunung Kemukus itu sendiri adalah daerah wisata di kabupaten itu. Pada waktu-waktu tertentu, terutama pada hari Kamis malam menjelang hari Jumat Pon, makam itu banyak dikunjungi orang.

Tempat yang disebut Gunung Kemukus itu bukan­lah gunung dalam arti sesungguhnya seperti Gunung Merapi di Jawa Tengah, Gunung Ceremai di Cirebon, atau Gunung Agung di Pulau Bali. Dalam kenyataan, Gunung Kemukus lebih merupakan suatu bukit kecil, yang tingginya diperkirakan 300 meter dari permuka­an laut. Sebagaimana kebanyakan nama-nama tem­pat yang sudah cukup lama dikenal orang, nama Gunung Kemukus mempunyai cerita tersendiri. Ada orang yang mengatakan bahwa nama itu diambil dari pohon kemukus, semacam pohon beringin tanpa akar gantung (sulur); karena daun pohon kemukus dapat digunakan untuk obat. Atau, nama ini mungkin juga berasal dari kosakata Jawa, kukus, yang artinya asap. Di bukit kecil itu memang ada makam yang sering dikunjungi orang. Mereka meminta penunggu makam membakar kemenyan agar permohonan mereka terkabul. Oleh karena itu, dilihat dari jauh, bukit kecil itu senantiasa mengeluarkan kepulan asap. Dapat dibayangkan, betapa anehnya sebuah bukit kecil yang tidak berapi, tetapi senantiasa me­ngeluarkan asap. Dari dua riwayat nama itu, tidak jelas mana yang benar; yang jelas, di bukit itu ada sebuah makam.

Seorang bangsawan, Pangeran Samodra nama­nya, elok parasnya, indah budi bahasanya, lembut tutur katanya, lengkap tata kramanya, serta baik dan jujur hatinya, dimakamkan di bukit itu. Oleh sebagian masyarakat setempat, ia dikatakan sebagai salah se­orang putra Pangeran Kadilangu, nama lain Kanjeng Sunan Kalijaga, seorang wali yang terkenal baik hatinya. Sebenarnya, kisah yang hidup di wilayah Gunung Kemukus ini agak membingungkan sebab sumber sejarah mengatakan putra Sunan Kalijaga bernama Sunan Muria. Akan tetapi, legenda bukanlah sejarah. Yang penting, cerita seperti ini hidup di wilayah itu dalam rangka ingin menerangkan asal muasal makam yang senantiasa dianggap keramat.

Ketika Kerajaan Majapahit mendekati saat akhir karena berbagai pemberontakan dari dalam negeri terutama serangan Girindrawardana, banyak bangsa­wan dan punggawa yang melarikan diri. Konon, di antara mereka ada yang melarikan diri ke wilayah Gunung Tengger dan ada pula yang menyeberang ke Pulau Bali. Pangeran Samodra juga mengalami kebimbangan antara kehendak menyelamatkan diri, atau tinggal di Kerajaan Majapahit karena cintanya kepada wilayah itu, atau mengikuti Raden Patah ke Demak. Beberapa malam ia berpikir dan mempertim­bangkan keputusan yang paling baik. Akhirnya, setelah melewati permenungan dan pembicaraan lama dengan Raden Patah yang mengemukakan bahwa Pangeran Samodra bukan saja andal dalam sifat, kecerdasan, dan keterampilan, tetapi juga dapat memberikan bantuan dan dukungan kepadanya di Demak, Pangeran Samodra memutuskan untuk ber­gabung dengan Raden Patah. Kepergian Pangeran Samodra diikuti ibu tirinya yang terkenal cantik dan awet muda bernama Dewi Ontrowulan.

Ketika tiba di Demak, Raden Patah dan rombong­an segera menyiapkan tata pemerintahan dan meng­himpun kekuatan untuk menyerang Girindrawardana yang tengah menguasai Majapahit. Sebagai raja muda, Raden Patah menyadari bahwa pemerintahan yang baik adalah yang dapat membuat rakyat mak­mur dan kepentingan mereka dilindungi. Untuk itu, diperlukan cara memerintah yang adil dan bijaksana. Tidak kalah pentingnya adalah keamanan bagi rakyat. Salah satu upaya menjaga keamanan adalah meng­usahakan agar di Kerajaan Demak tidak terjadi rongrongan dari para pengacau. Langkah awal yang dirasa perlu dilakukan adalah mengumpulkan kembali para bangsawan Majapahit, terutama saudara­saudara Pangeran Samodra yang melarikan diri. Mengapa demikian? Jika para bangsawan, pung­gawa, saudara-saudara Raden Patah dan Pangeran Samodra bersatu di bawah naungan Kerajaan Demak, bukan saja kerajaan itu menjadi kokoh dan kuat karena dukungan petinggi-petinggi berwibawa, melainkan juga kekhawatiran akan munculnya permusuhan dari kalangan sendiri dapat dihindari. Selain itu, dalam rangka persiapan menggempur Girindrawardana, dukungan dari para petinggi itu sangat penting.

Konon, pada suatu malam Pangeran Samodra di­panggil Raden Patah menghadap. Raden Patah men­jelaskan gagasannya kepada Pangeran Samodra. Tanpa banyak komentar, Pangeran Samodra segera menyanggupi tugas berat itu. Ketika Pangeran Samodra mulai mencari para petinggi yang tercerai­berai, kesulitan mulai dialaminya meskipun ia diiringi sejumlah punggawa. Para petinggi itu bukan saja tidak diketahui tempat tinggalnya, melainkan juga ada kesengajaan bersembunyi karena takut. Ada pula penduduk yang berniat melindungi persembunyian mereka sehingga pencarian semakin sulit. Untunglah, Pangeran Samodra seorang pemuda yang gigih dan tidak mudah patah arang. Ketekunan, keuletan, serta ketakwaannya kepada Tuhan membuahkan hasil yang tidak kecil. Beberapa bangsawan dapat ditemui dan dibujuk untuk mendukung Raden Patah.

Mula-mula, di lereng Gunung Lawu, Pangeran Samodra bertemu dengan Raden Gugur. Kemudian, ia bertemu dengan Raden Bethara Katong, yang dikenal sebagai Adipati Ponorogo. Beberapa bangsa­wan, petinggi, serta punggawa yang lain juga dapat ditemui dan dibujuk. Yang terakhir ditemui adalah Adipati Madiun.

Setelah cukup lama tidak berjumpa dengan Pangeran Samodra, perasaan rindu Ontrowulan ke­pada putra tiri tunggalnya itu mulai menderu. Pada siang hari wajah Pangeran Samodra membayang; pada malam hari sang Pangeran seakan datang le­wat lubang-lubang mimpinya.

Sementara itu, dalam tugas yang berat, Pangeran Samodra mulai sering sakit karena lelah yang ber­kepanjangan. Beberapa punggawa yang menyertainyamemberikan saran supaya Pangeran pulang ke Demak karena tugas sudah cukup berhasil. Pangeran Samodra pun menerima usul itu.

Ketika rombongan tiba di dukuh Barong, Pangeran Samodra jatuh sakit. la meminta kepada dua orang prajurit setia yang menyertainya agar melanjutkan perjalanan mereka ke Demak dan melaporkan semuanya kepada Raden Patah. Tidak lupa, salam hormat kepada Ibunda Ontrowulan.

Begitu dua prajurit berangkat, sakit sang Pangeran semakin parah. Dalam bayang-bayang, ajal sering mulai tampak berkelebat. Oleh karena itu, Pangeran Samodra berpesan, jika kelak Tuhan memanggilnya, ia minta agar dimakamkan di Bukit Kemukus yang terletak di sebelah barat tidak jauh dari dukuh Barong.

Alkisah, dua orang prajurit itu pun tiba di Kerajaan Demak. Ketika Ontrowulan mendengar bahwa putra tiri tunggalnya sakit, sedihlah hatinya. Kemudian, ia minta izin Raden Patah untuk berangkat ke dukuh Barong menemui putra terkasih.

Alangkah remuk redam hatinya tatkala ia tiba di tempat itu Pangeran Samodra telah meninggal, bah­kan sedang dalam perjalanan untuk dimakamkan di Bukit Kemukus. Dengan pilu dan tersedu-sedu, Ontrowulan menyusul jenazah putranya ke Bukit Ke­mukus. Di kaki Bukit Kemukus, Ontrowulan melihat iringan itu mendaki. Tekadnya kuat untuk menyusul. Akan tetapi, sebelum naik ke bukit, ia merasa perlu membersihkan diri dengan mandi di telaga yang telah digunakan untuk memandikan jenazah sang putra. Merasa sudah cukup bersih, sang ibu tiri berangkat menyusul dan tiba tepat ketika jenazah Pangeran Samodra diturunkan ke liang lahat.

Berdesakan dengan pelayat yang lain, Ontrowulan melihat sang putra tercinta tergolek di dalam liang kubur. Tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan se­cara mendadak degup jantungnya berhenti. la pun terjatuh ke dalam liang lahat itu.

Demikianlah, Pangeran Samodra dan ibu tirinya, Ontrowulan, dikebumikan di liang lahat yang sama. Oleh karena itu, penduduk sekitar sering mem­bayangkan, dari makam itu memancar kesetiaan kuat akan tugas dan kecintaan mengharukan kepada putra.

Kesimpulan

Cerita ini dapat digolongkan sebagai legenda. Dari legenda ini dapat diambil hikmah bahwa untuk men­jaga keutuhan suatu wilayah, diperlukan suatu per­juangan yang gigih. Sebagai pengemban tugas, Pangeran Samodra tidak mengenal lelah walaupun berbagai hambatan dan kesulitan menghadang. Dia rela berkorban, bahkan rela tidak menikmati hasil jerih payahnya. Ontrowulan juga dapat dipandang sebagai contoh kasih kepada sang putra walaupun hanya putra tiri. Sayang, Ontrowulan kurang kuat sehingga jantungnya berhenti- melihat putranya me­ninggal.

Filed under: Tak Berkategori

%d blogger menyukai ini: