LEGENDA CERITA KOTA SURAKARTA

Ikon

LEGENDA ENDANG NAWANGSIH

Legenda Endang Nawangsih sangat populer di Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, antara lain karena para penari menciptakan sendratari de­ngan cerita ini. Selain itu, ada dua buah makam berdampingan di desa Pantaran, 17 kilometer se­belah barat Boyolali, dipercaya sebagai makam Endang Nawangsih dan

Alkisah, di desa Canditoro ada seorang gadis je­lita, luhur budinya, dan senantiasa siap menolong sesamanya. Gadis itu bernama Endang Nawangsih. la menyukai tanaman sayur-sayuran, teh, dan ter­utama yang berbuah seperti kopi. Alasannya, buah tanaman itu dapat dimanfaatkan penduduk setempat, terutama yang kurang mampu dan memerlukan per­tolongan.

Pada suatu pagi, ketika Endang Nawangsih te­ngah memetik sawi, datanglah seorang perjaka tam­pan. Perjaka itu mengaku bernama Citrasoma, putra Raja Hajipamoso, penguasa Pengging. Selain ingin menikmati pemandangan indah dan menghirup udara sejuk, si perjaka mengunjungi desa itu atas perintah ayahandanya untuk memeriksa wilayah. Raja Hajipamoso sering kurang puas mendengar laporan para punggawa mengenai wilayah itu.

Tiba di desa Canditoro, Citrasoma dan Endang Nawangsih saling bertatap pandang. Kata-kata lemah lembut dan penuh sopan santun yang diucapkan Endang membuat Citrasoma terpesona. Pertemuan singkat itu membekas di hati Citrasoma.

Oleh karena itu, ketika Citrasoma tiba di Pengging, laporannya kepada Raja Hajipamoso bukan tentang keadaan wilayah itu, melainkan tentang Endang Nawangsih. Tidak hanya itu, Citrasoma bahkan me­nyatakan keinginannya untuk mempersunting gadis jelita itu. Untuk itu, Raja Hajipamoso segera me­manggil guru Citrasoma untuk meminta pertimbang­an. Sang guru diam sejenak, kemudian merenung. Beberapa menit kemudian, sang guru menganggukkan kepala tanda setuju. Citrasoma pun tersenyum bahagia.

Pembicaraan antara Raja Hajipamoso dan Syekh Maulana Malik Ibrahim Maghribi (guru Citrasoma) segera berlangsung dengan sungguh-sungguh. Mereka membicarakan kapan sebaiknya mengunjungi desa Canditoro untuk melamar Endang Nawangsih.

Sementara itu, di desa Canditoro tampak Ki Ageng Pantaran sedang asyik membicarakan berbagai hal dengan sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba, muncullah Endang Nawangsih dengan tergopoh-gopoh. la men­ceritakan peristiwa yang baru dialaminya di ladang. Ki Ageng hanya tersenyum menanggapinya. la tahu, putrinya sudah beranjak dewasa dan sudah saatnya tertarik kepada seorang pria. Belum lagi Ki Ageng memberi jawaban, datanglah Citrasoma, Hajipamoso, dan Syekh Maulana. Mereka melamar Endang untuk Citrasoma. Tentu saja Endang sangat terkejut. Bagai­mana mungkin dalam waktu sesingkat itu Citrasoma dapat kembali bahkan dengan membawa ayahanda serta gurunya? Akan tetapi, Endang segera ingat bahwa putra Raja Pengging itu memang terkenal sakti. Konon, ia memiliki ajian Angin Selaksa, yang memungkinkan seseorang dapat berlari dan me­nyelesaikan tugas dengan sangat cepat.

Kedatangan tamu-tamu itu membuat Endang Nawangsih gugup dan sedikit tersipu-sipu. Wajahnya menjadi merah jambu. Bagi Citrasoma, Endang tam­pak semakin cantik.

Ketika Raja Hajipamoso mendesakkan keinginan sang putra, Endang menjawab dengan cerdik. la mau menerima lamaran Citrasoma kalau perjaka tampan itu mampu memenuhi permintaannya, yaitu mencipta­kan sumber air jernih di desa Canditoro. Mendengar permintaan itu, Citrasoma segera meninggalkan mereka dan pergi bertapa.

Seperti biasa, apabila orang tidak tidur dan tidak makan, tubuhnya menjadi panas. Demikian pula hal­nya dengan Citrasoma. Karena perjaka itu sakti, dari tubuhnya memancar udara panas hampir 500 derajat Celcius. Akibatnya, berbagai jenis jin dan makhluk halus lainnya merasa sangat terganggu. Mereka ingin membatalkan keinginan Citrasoma untuk terus ber­tapa. Karena cara makhluk halus tidak bertatakrama, Citrasoma marah. Perkelahian pun terjadi. Walaupun dikeroyok oleh hampir 457 jin dan 678 makhluk halus lainnya, kemenangan akhirnya berada di pihak sang perjaka. Setelah itu, Citrasoma menjelaskan maksud tapanya. Mendengar penjelasan perjaka itu, semua jin dan makhluk halus sepakat membantu.

Tujuh hari sejak Citrasoma mulai bertapa, muncul­lah sumber air jernih yang memancar dengan deras dari lereng Gunung Merbabu ke desa Canditoro.

Endang Nawangsih kagum, demikian pula Ki Ageng Pantaran. Seluruh penduduk desa segera beramai-ramai menemui sang perjaka yang tengah bertapa bersama makhluk-makhluk halus yang sudah ditaklukkannya. Mereka memuji kehebatan Citrasoma. Akan tetapi, karena putra raja Hajipamoso adalah seorang ksatria sejati, ia cenderung merendahkan diri.

“Hamba tidak menciptakan sumber air jernih ini,” katanya lembut dan sangat perlahan, “tetapi Tuhan yang Mahakasih berkenan memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Selain itu, juga karena doa dan restu Ki Ageng Pantaran.”

Ki Ageng terharu mendengar kerendahan hati Citrasoma. Oleh karena itu, Endang Nawangsih pun diperkenankan untuk dipersunting putra Raja Hajipamoso. Nama desa itu pun diubah. Tidak lagi Canditoro, tetapi Pantaran. Udara desa itu sejuk ka­rena ada di ketinggian 1.200 meter di atas per­mukaan laut.

Kesimpulan

Ada pendapat bahwa cerita ini termasuk legenda karena menjelaskan nama-nama desa dan adanya sepasang makam. Akan tetapi, ada pula yang me­ngatakan bahwa cerita ini termasuk dongeng. Apa pun yang dikatakan orang tentang cerita ini, yang jelas ada pelajaran yang dapat dipetik dari cerita ini. Jika orang mempunyai keinginan luhur dan cita-cita, orang itu harus berani bekerja keras melawan kemalasannya. Hanya dengan cara ini ia dapat menunjukkan kesungguhannya. Kesungguhan itu sen­diri, biasanya akan membukakan jalan keluar dalam mengatasi berbagai hambatan dan kesulitan.

Filed under: Tak Berkategori

One Response

  1. jihan fahriani mengatakan:

    hebat ceritanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: