LEGENDA CERITA KOTA SURAKARTA

Ikon

LEGENDA BALAI-BALAI KAYU JATI

Kayu jati adalah bahan penting untuk mendirikan rumah dan membuat perabot. Harganya pun dari waktu ke waktu semakin mahal. Akan tetapi, di desa Tlogosari, 15 kilometer dari Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri, orang tidak berani meng­gunakan kayu jati untuk keperluan apa pun. Meng­apa?

Di desa Tlogosari ada seorang tetua, Demang Joyosura namanya. Menurut seorang pakar sastra Jawa, Rama Kuntara Wiryamartana, joyo berarti jaya dan sura berarti berani. Jadi, Joyosura berarti berani untuk berjaya. Tidaklah mengherankan bahwa selama wilayah ini dipimpin Ki Demang Joyosura, rakyat menjadi makmur. Joyosura juga seorang guru yang tidak hanya memberi pelajaran tentang ilmu penge­tahuan, tetapi juga ilmu bela diri dan seluk-beluk manusia hidup di dunia. Oleh karena itu, murid­muridnya berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Salah seorang muridnya yang cerdas dan cakap ber­nama Citrawangsa, berasal dari Kerajaan Majapahit. Maklumlah, pada saat itu, Tlogosari di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa Timur.

Pada suatu senja selepas magrib, tanpa diduga muncullah seorang punggawa, utusan dari Majapahit, menemui Ki Joyosura. Utusan itu tampak letih, tubuh­nya mengeluarkan bau tidak sedap karena hampir 40 hari belum mandi. Meskipun demikian, utusan itu diminta segera menjelaskan maksud kedatangannya karena Joyosura ingin segera mengetahui pesan Raja Majapahit. Utusan itu mengatakan bahwa Joyosura diperintahkan raja untuk menumpas pemberontakan. Untuk itu, ia harus menghadap raja di Trowulan, Jawa Timur.

Joyosura terdiam dan merenung mendengar perin­tah itu. Wajah Raja Majapahit pun membayang, suaranya terngiang. Sebelum Joyosura memberikan jawaban, Citrawangsa mengusulkan, sebaiknya Ki Joyosura tinggal saja di desa itu; ia yang akan menghadap Raja Majapahit. Bukan saja Citrawangsa merasa harus berbakti kepada negara, melainkan ia juga sudah sepantasnya melakukan tugas itu karena ilmu, kesaktian, dan keterampilan berperang sudah banyak ia kuasai. Citrawangsa bahkan menegaskan, ia ingin membalas budi Joyosura, gurunya, yang sudah begitu ikhlas menurunkan ilmu kepadanya. Setelah mempertimbangkan usul itu cukup lama, Joyosura meluluskan permintaan muridnya.

Malam hari menjelang keberangkatannya, Citra­wangsa berpesan kepada istrinya agar banyak ber­doa demi keselamatannya. Selain itu, ia minta agar setiap pagi istrinya mengamati keadaan balai-balai tempat mereka berdua biasa tidur. Jika balai-balai itu bersih tanpa noda, berarti Citrawangsa berhasil da­lam peperangan. Akan tetapi, jika balai-balai tampak bercak-bercak darah, mungkin Citrawangsa sudahgugur, terluka, atau ditangkap musuh. Setelah pesan disampaikan, mereka saling berpelukan. Tujuh belas titik air mata menetes di dada Citrawangsa. Akan tetapi, bukankah semangat ksatria adalah ikhlas dan teguh hati dalam tugas.

Keesokan harinya, selepas subuh, berangkatlah orang muda itu. Tiba di Kerajaan Majapahit, ia dimin­ta memimpin pasukan bersenjatakan tombak, panah, dan pedang.

Pada awal pertempuran, pasukan yang dipimpin Citrawangsa berhasil. Akan tetapi, makin lama se­mangat tempur prajurit Majapahit melemah. Akhirnya, sebagian besar prajurit menyerah. Citrawangsa pun terkepung. la ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Pada saat yang sama, istri Citrawangsa sedang mengamati balai-balai tempat tidurnya. Tiba-tiba wa­nita cantik itu menjerit ketika ia melihat ada bercak­bercak darah di atasnya. Sudah gugurkah suami yang disayanginya? Terluka atau dipenjarakah ia? Istri Citrawangsa yakin bahwa bercak-bercak darah itu merupakan pertanda bahwa mungkin sang suami tidak dapat lagi diharapkan kembali.

Setahun sudah Citrawangsa dalam penjara, se­tahun sudah peperangan membara, dan setahun sudah sang istri hidup menjanda. Sementara itu, di seluruh desa Tlogosari mulai tersebar berita adanya janda cantik. Begitu cantiknya si janda sehingga orang mengibaratkannya bulan. Oleh karena itu, ia dipanggil Wulan.

Sementara Citrawangsa meringkuk dalam penjara, teman-teman seperjuangannya bertempur terus de­ngan berbagai cara. Sampai akhirnya, secara tiba­tiba dari penjara terdengar bendhe (gong kecil) di­pukul bertalu-talu, tanda pasukan Majapahit menang.

Citrawangsa pun dibebaskan dari penjara dan Raja Majapahit memberinya hadiah emas dan mutu manikam yang dapat digunakan sebagai bekal memaju­kan desa Tlogosari.

Wajah Wulan pun mulai membayang, tatkala Citra­wangsa bergegas menuju desanya di Kabupaten Wo­nogiri. Akan tetapi, alangkah terkejutnya pahlawan itu ketika tiba di desanya karena sebuah pesta sedang disiapkan. Ternyata, Wulan menerima pinangan seorang perjaka bertubuh kekar dan berkumis lebat. Hari itu adalah upacara pernikahan mereka.

Amarah Citrawangsa meluap, tetapi segera di­tahannya. Siapa tahu, pernikahan itu bukan kehendak Wulan, melainkan karena keadaan mendesak. Mak­lumlah, pada waktu itu seorang janda dapat dianggap menimbulkan aib bagi penduduk desa.

Oleh karena itu, dengan lapang dada Citrawangsa masuk ke dalam pesta. Agar tidak diketahui orang, ia mengenakan pakaian bagus hadiah dari Raja Majapahit, termasuk emas dan berlian sebagai hiasan jarinya. Keris yang disandangnya juga bertatahkan mutu manikam.

Sudah lama tamu menunggu, tetapi upacara be­lum juga dimulai karena dalang (petugas yang me­mainkan wayang kulit) belum datang. Seorang pen­duduk akhirnya memberitahukan bahwa si dalang se­dang sakit perut. Mendengar berita itu, Ki Joyosura pun mengumumkan kepada para tamu apakah ada yang bersedia memainkan wayang kulit. Tanpa ba­nyak pertimbangan, Citrawangsa mengajukan diri. la berjalan menuju tempat yang sudah disediakan, lalu duduk bersila di depan batang pisang tempat boneka wayang kulit disiapkan berjajar-jajar.

Kotak penyimpan wayang dipukul seperti biasa jika seorang dalang mulai mendalang. Gamelan mulai dibunyikan. Akan tetapi, Citrawangsa tidak segera mengambil boneka-boneka wayang itu; ia mencerita­kan kisahnya sendiri.

Mendengar cerita Citrawangsa, Wulan pun ter­tegun. Kemudian, ia berlari menuju balai-balainya. Astaga! Bercak-bercak darah sudah hilang. Balai-balai itu kembali bersih, bahkan berseri-seri bagaikan habis dicuci di sungai yang mengandung air sakti. Hatinya menjerit karena gembira, tetapi calon suaminya men­jadi murka. Pertengkaran pun hampir terjadi jika Joyosura tidak segera menjelaskan duduk persoalan­nya. Makin jelas semuanya tatkala dalang pengganti itu membuka rahasia siapa sebenarnya dirinya. Oleh karena itu, calon suami Wulan pun ikhlas melepas­kan si janda. Suami Wulan ternyata masih segar bugar, bahkan tampak lebih tampan.

Untuk memperingati kisah yang menarik itu, pen­duduk desa Tlogosari bersepakat menganggap kayu jati adalah kayu yang keramat dan dimuliakan.

Kesimpulan

Legenda ini memberikan pelajaran mengenai bakti seorang murid kepada gurunya dan juga seorang calon suami yang ikhlas melepaskan kepentingan diri­nya sendiri. Wulan juga dapat menjadi suri te/adan. Walaupun sudah ada tanda-tanda bahwa suaminya sudah meninggal, ia masih bertahan beberapa lama. Jika tidak dipaksa oleh keadaan, mungkin ia akan tetap menjanda. Cinta Wulan kepada Citrawangsa adalah cinta sejati. Cinta yang didukung oleh se­mangat berkorban.

Filed under: Tak Berkategori

%d blogger menyukai ini: