LEGENDA CERITA KOTA SURAKARTA

Ikon

JOKO BUDUG

Desa Jambeyan yang terkenal karena pemandian air panas Bayanan termasuk wilayah Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen. Di kabupaten ini ada wilayah yang disebut pedukuhan

Di pedukuhan Gamping dapat ditemukan sebuah bekas makam yang tidak berbatu nisan. Makam itu berpagar bambu dengan cat merah dan kuning, me­ngelilingi bekas liang lahat yang panjangnya kurang lebih enam meter. Liang lahat itu dilindungi sebuah gubuk beratap rumbia. Di sebelah timur bekas makam itu, ada setumpuk genting yang sudah ber­lumut. Menurut cerita penduduk setempat, genting­genting itu pernah dipakai untuk mengganti rumbia sebagai atap. Tampaknya, orang yang pernah dimakamkan di situ tidak berkenan. Begitu genting dipasang di atas liang lahat, keesokan harinya gen­ting-genting itu kembali tertumpuk di sebelahnya. Oleh sebab itu, hingga saat ini pelindung makam itu tetap beratap rumbia dan genting-genting itu di­biarkan tertumpuk di dekatnya. Tak seorang pun berani mengambil, memindahkan, bahkan menggeser. Demikian pula dengan pagarnya, tak seorang punberani menggantinya dengan bahan kayu atau besi. Akibatnya, makam itu tampak tidak terawat.

Bekas makam itu terletak di sudut sebuah tanah lapang. Lapangan ini biasanya digunakan untuk ke­giatan olahraga murid sekolah dasar. Gedung sekolah itu berdiri tidak jauh dari bekas makam. Akan tetapi, pada hari-hari tertentu, khususnya pada hari Jumat Pahing, lapangan ini sepi. Menurut cerita pen­duduk setempat, hari itu adalah hari pantang meng­adakan kegiatan apa pun di sekitar lapangan. Pe­nyelenggaraan ujian olahraga pun tidak akan pernah dilakukan pada hari itu. Kebijakan ini diambil oleh pimpinan sekolah demi keselamatan siswa. Alasan­nya, sudah beberapa kali terjadi kecelakaan yang menimpa siswa dan hampir semuanya tidak masuk akal. Misalnya, hanya karena tersentuh bola, seorang siswa jatuh pingsan.

Konon, liang lahat itu mempunyai kisah cukup menarik sebagai berikut. Kira-kira akhir abad ke-15, Prabu Brawijaya, raja Majapahit pada waktu itu, mempunyai putra bernama Raden Haryo Bangsal yang elok parasnya. Pada suatu hari, Sang Prabu menyuruh putranya untuk menghadap. Prabu bertitah, “Bangsal, sekarang tiba waktumu untuk menikah. Apakah kamu sudah siap?”

Haryo Bangsal menjawab, “Hamba belum ingin menikah karena hamba masih ingin memperoleh ke­saktian dan mencari ilmu ke luar Jawa.”

Raja marah mendengar jawaban Bangsal. Raja bertitah bahwa dia tidak berkeberatan memberi izin Bangsal memperdalam ilmu, tetapi menikah harus dijalankan lebih dahulu.

Bagaimanapun juga, Bangsal tetap menolak. Akhir­nya, Bangsal diminta masuk ke dalam kamarnya dan memikirkan keputusan terakhir sebelum raja murka. Setelah berpikir, Bangsal merasa tidaklah me­nyenangkan bila berumah tangga dulu. Daripada menjalani permintaan ayahnya, lebih baik ia lari dari Keraton Majapahit.

Malam harinya, saat semua orang sudah tidur dan penjagaan sudah sepi, Raden Haryo Bangsal pun melarikan diri dari keraton lewat pintu belakang dan pergi menuruti kata hatinya. Perjalanan yang panjang, jauh, dan lama membawanya ke dalam hutan. Ran­ting, duri, dan semak mencabik-cabik pakaian dan kulitnya hingga tubuhnya penuh kudis dan berbau amis. Mulai saat itu, ia menamakan dirinya Joko Budug (perjaka kudisan).

Perjalanan dilanjutkan hingga ia tiba di desa Dadapan. Di desa itu tinggal seorang perempuan tua bernama Mbok Rondho Dhadhapan. Joko Budug yang lelah tertidur di bawah pohon rindang. Pada saat itulah Mbok Rondho lewat. Pemuda penuh kudis itu dibangunkan dan diajak bercakap sejenak. Akan tetapi, Budug jatuh tertidur lagi karena lelah yang hebat. Pada saat itulah, dia mengigau keras. Tanpa disadarinya, ia mengutarakan penyesalannya. Se­bagai seorang putra raja, ia tidak pantas menderita penyakit kudis dan hidup sangat sengsara. Begitu mendengar igauan Budug bahwa ia putra raja, Mbok Rondho membangunkannya kembali dan memintanya tinggal bersamanya. Budug menerima tawaran itu dan tinggal di rumah perempuan tua itu.

Pada suatu siang menjelang asar, Joko Budug merasa haus. Ketika melihat buah kelapa ranum di pucuk pohon, terbitlah seleranya. Oleh karena itu, Budug meminta izin untuk memetik kelapa itu. Izin pun diberikan oleh Mbok Rondho. Ternyata, pohon kelapa itu bukan dipanjat, melainkan pucuk pohon kelapa (tingginya hampir 17 meter) itu diraihnya hingga melengkung. Akan tetapi, ketika tangannya mam­pu meraih kelapa, yang diambil hanya dahannya. Setelah pohon dilepaskan, dahan daun kelapa itu dibuat tongkat dengan ujung runcing. Tongkat itu diberi nama Luh Gading dan digunakan Budug untuk menggembalakan kambing. Kadang-kadang Budug iseng, batu-batu besar ditusuknya dengan tongkat hasil karyanya. Batu pun tembus dan pecah.

Pada suatu hari, terdengar berita bahwa Raja Puan menyelenggarakan sayembara. Siapa dapat membelah batu besar yang menghadang arus air bendungan, akan mendapat hadiah istimewa. Hadiah­nya adalah putri raja, Dewi Nawang Wulan namanya. Dijelaskan pula, arus Sungai Sawur di bendungan harus dialirkan ke alun-alun untuk mengairi pohon pisang yang bertunas kain batik agar pohon itu tidak kering pada musim kemarau.

Mendengar adanya sayembara itu, Budug me­rnohon kepada Mbok Rondho agar dia didaftarkan sebagai peserta. Dengan berat hati, Mbok Rondho memenuhi permintaan Budug.

Budug dibawa menghadap raja. la memperoleh izin memulai tugasnya. Budug mohon agar diberi waktu satu hari satu malam. Raja tidak keberatan.

Dalam hati raja geli, bagaimana mungkin seorang lelaki kurus, penuh kudis, dapat membelah batu kali raksasa itu. Akan .tetapi, alangkah terkejutnya raja ketika pada suatu pagi terdengar rakyat bersorak­sorai. Air Sungai Sawur mengalir deras mengairi sawah, ladang, dan pohon pisang. Bersukacitalah raja siang itu. Namun, menjelang tidur hatinya gun­dah gulana. Bagaimana mur.gkin putrinya yang cantik dan wangi dijodohkan dengan Joko Budug yang penuh kudis itu?

Keesokan harinya, raja memanggil Maha Patih.

“Kamu tahu apa yang aku pikirkan, Patih?” tanya Raja Puan. Patih menunduk, lalu mengangguk.

“Bagus. Budug yang tubuhnya penuh kudis itu harus dibilas, dimandikan, hingga sungguh-sungguh bersih tanpa bekas …,” titah raja.

Patih pun berangkat menjemput Budug. Akan tetapi, di tempat sepi, di tepi sungai, Budug dibunuh. Raja terkejut, tetapi juga gembira. Untuk menutupi gagasannya yang licik, diadakanlah upacara pe­makaman Budug secara besar-besaran. Anehnya, setiap kali mayat Budug akan dimasukkan ke dalam liang lahat, mayat itu memanjang. Akhirnya, terdengar suara mengatakan bahwa Nawang Wulan memang jodohnya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang mampu menghalangi pertemuan mereka.

Dengan pilu, raja bertitah agar Nawang Wulan dibunuh dan dimakamkan dalam liang lahat yang sama. Beberapa tahun kemudian, raja bertitah agar kedua mayat itu dipindahkan ke tanah yang lebih tinggi agar tidak tergenang air jika musim hujan. Liang lahat itu menjadi tanah berlubang yang kosong. Tanah kosong itu membawa kenangan sebuah kisah cinta antara seorang wanita dan seorang pria yang belum pernah bertemu ketika keduanya masih hidup.

Kesimpulan

Legenda ini memberikan pelajaran bahwa janji harus ditepati. Orang yang memberi janji ibaratnya orang berutang. Orang yang berutang harus membayar kembali utangnya, bahkan wajib memberikan bu­nganya. Pelajaran lain yang dapat dipetik adalah orang tidak boleh menganggap rendah sesamanya.

Filed under: Tak Berkategori

%d blogger menyukai ini: