LEGENDA CERITA KOTA SURAKARTA

Ikon

GUNUNG MADIRDO

Di wilayah Kecamatan Giriwoyo, tepatnya di per­batasan Kecamatan Giriwoyo, Kecamatan Batu­retno, Kecamatan Batuwarno, dan Kabupaten Wo­nogiri, terdapat sebuah bukit yang tampak lebih tinggi daripada bukit-bukit lain yang ada di sekitarnya. Pen­duduk di sekitarnya menamakan bukit itu

Konon, ratusan tahun yang silam, di puncak Gu­nung Madirdo ini ada sebuah cupu (semacam tempat perhiasan, kecil ukurannya, bulat, dan bertutup) yang dinamakan Cupu Manik Asta Gina, milik Dewi Windrawati, istri Resi Gutomo. Pada suatu hari, cupu itu menjadi bahan rebutan anak-anak sang Resi. Akhirnya, Resi Gutomo melemparkan cupu itu dan jatuh di puncak Gunung Madirdo. Tutup cupu itu terlepas waktu terjatuh, lalu berubah menjadi telaga di depan mulut Gua Putri. Penduduk setempat mem­beri nama Telaga Madirdo. Luas telaga itu kurang lebih 3 x 2,5 meter persegi. Meskipun disebut telaga, bentuknya seperti bangunan kolam berdinding batu alam.

Di telaga inilah orang-orang di sekitar daerah itu mengambil air untuk minum kuda mereka. Ada juga yang memberi minum kudanya dari air Sungai Klan­ting di sebelah selatan bukit itu yang dianggap me­rupakan rembesan dari Telaga Madirdo.

Pada malam Jumat Pon banyak orang berziarah ke puncak Gunung Madirdo. Mereka memohon per­tolongan Ki Sabadrana. Siapakah Ki Sabadrana itu? Apa hubungannya dengan air telaga dan kuda?

Alkisah, ada seorang penduduk di desa itu yang bernama Sabadrana. la memiliki kuda betina yang sedang menyusui anaknya. Pada suatu malam, Ki Sabadrana pergi ke rumah saudaranya yang baru saja melahirkan. Menjelang dini hari, ia baru pulang. Begitu sampai di depan gerbang, ia tidak langsung masuk ke dalam rumah, tetapi menuju kandang kuda kesayangannya. Tempat itu gelap. Begitu sampai di depan kandang, Ki Sabadrana terkejut dan takut. Tampak olehnya seekor binatang sangat besar memanjat palang-palang kandang serta berjalan-jalan di atasnya. Anak kuda kesayangannya tidak tampak. la tidak berani mendekat. Di dalam bayangannya, binatang itu bagaikan seekor harimau. Pikirnya, anak kuda kesayangannya pasti telah dimakan harimau itu.

Dengan cepat dan hati-hati, Ki Sabadrana masuk ke dalam rumah. Sambil membawa tombak, ia keluar untuk membalas dendam. Tanpa pikir panjang, ditusukkannya tombak pada harimau itu. Seketika itu juga, binatang buas itu jatuh, disertai suara ringkikan kuda. la baru berani mendekat setelah binatang itu jatuh dan tidak bergerak lagi. Setelah diamati, betapa terkejutnya Ki Sabadrana, ternyata yang ditombak adalah anak kuda kesayangannya. Karena belum ya­kin benar, ia segera lari ke dalam rumah dan mem­bangunkan istrinya. Sambil membawa lampu minyak, diajaknya sang istri untuk memastikan apa yang di­lihatnya. Ternyata tidak salah. Memang yang mati adalah anak kuda kesayangannya. Sedihlah Sabadrana. Malapetaka apa yang akan menimpaku, pikirnya.

Selang beberapa hari, Ki Sabadrana pergi ke hu­tan dengan mengendarai kudanya. Kuda itu dilepas begitu saja di padang rumput, sementara ia me­nebang pohon-pohon di hutan untuk dibuat ladang pertanian. Belum lama ia bekerja, terdengarlah ring­kikan kuda bersahut-sahutan bagaikan sedang ber­kelahi. Karena takut kudanya dalam bahaya, ia se­gera berlari mendekati asal suara itu.

Setiba di sana, tertegunlah- ia. la menyaksikan kudanya sedang bercinta dengan seekor kuda jantan yang tampan dan ajaib. Kuda jantan itu bersayap sangat indah, berbaju sutra dan beludru berkilau­kilauan, serta berkalung genta emas yang berbunyi sangat nyaring. Perhiasan yang dikenakan kuda jan­tan itu bertatahkan intan berlian, mirah, dan zamrud yang bersinar-sinar menakjubkan.

Timbullah kenginan Ki Sabadrana untuk menang­kap kuda jantan itu. Sambil merunduk dan meng­endap-endap di dalam semak, ia berusaha men­dekati kuda jantan itu. Setelah kira-kira jarak antara ia dan kuda ajaib itu memungkinkan, segeralah ia melompat. Akan tetapi, dengan lincah kuda jantan itu menghindar. Walaupun Ki Sabadrana sudah meraih sebagian pakaian kuda itu, kekuatan terbang kuda ajaib itu dapat mengibaskannya. Kuda itu kembali lepas, bahkan terbang. Sedihlah Ki Sabadrana.

Perasaan kesal dan kecewa tiba-tiba hilang ketika dilihat kuda dambaannya mendarat kembali di depan mulut gua di puncak Gunung Madirdo. Kuda itu kemudian dihampiri oleh seorang putri yang amatcantik. Kuda jantan ajaib itu menunduk memberi hor­mat kepada sang putri.

Melihat kejadian itu, Ki Sabadrana duduk bersim­puh dipenuhi rasa takut dan kekaguman luar biasa. Tiba-tiba putri itu berkata dengan suara lembut dan syandu bahwa ia bukan jin, melainkan manusia biasa. Dikatakan selanjutnya, sudah lama ia bertapa di gua itu karena memiliki keinginan yang dirahasia­kan. Setelah beberapa tahun, dewa memberinya hadiah seekor kuda sembrani, yaitu kuda yang dapat terbang, elok parasnya, dan kuat sekali tenaganya.

Kemudian, wanita cantik itu meminta Ki Sabadrana tinggal di gua itu. Ki Sabadrana disuruh membantu wanita cantik itu untuk memelihara kuda ajaibnya. Permintaan itu diterima Ki Sabadrana.

Selanjutnya, pekerjaan sehari-hari Ki Sabadrana adalah membersihkan gua pertapaan dan merawat kuda sembrani Putri Mardaeni, nama wanita cantik itu. la memberi minum kuda itu dari Telaga Madirdo dan memandikannya di Sungai Kerok, sebelah barat Gunung Madirdo.

Karena Ki Sabadrana sudah lama tidak pulang, keluarganya menjadi cemas. Istrinya bersama warga desa Truka melacak jejak kepergian Ki Sabadrana. Pertama-tama, kuda Ki Sabadrana yang dilepas di hutan ditemukan. Lalu, di sana terlihat jejak kaki kuda lain, dan bekas kuda bercinta. Siapa pemilik kuda itu? Di mana pula Ki Sabadrana?

Pencarian dilanjutkan. Akhirnya, mereka tiba di mulut gua. Mereka melihat tanda-tanda kehidupan. Betapa herannya mereka ketika melihat banyak bekas telapak kaki kuda di bebatuan dinding telaga. Tiba-tiba terdengarlah suara dari dalam gua, tetapi tidak tampak wujudnya. Mereka menjadi heran dan takut. Ketika suara itu didengarkan dengan saksama, yakinlah mereka bahwa itu suara Ki Sabadrana. la mengatakan bahwa mereka tidak perlu bersedih karena ia sudah cukup bahagia dengan kehidupan­nya yang baru. la juga minta agar jika mereka memiliki kuda hendaklah diberi minum dari Telaga Madirdo dan sering dimandikan di Sungai Kerok. Selain itu, setiap kali jika ada warga desa mengalami kesulitan hendaklah datang ke gua itu dan menyebut namanya beberapa kali. la akan membantu.

Tempat kuda Ki Sabadrana dan kuda ajaib bercin­ta itu kemudian disebut desa Tirtasanggama. Mung­kin karena dianggap kurang sopan, pada tahun 1961 nama itu diganti Bumiharjo. Bekas-bekas telapak kaki kuda itu hingga cerita ini disusun, masih dapat dilihat dengan jelas.

Kesimpulan

Legenda ini memberikan pelajar.an bahwa karena Ki Sabadrana senantiasa tekun dalam tugas yang sederhana dan selalu cinta kepada binatang pelihara­annya, ia mendapatkan pahala yang setimpal. Selain itu, ia juga selalu mau menolong orang yang susah.

Filed under: Tak Berkategori

%d blogger menyukai ini: