LEGENDA CERITA KOTA SURAKARTA

Ikon

RAJAMALA

Nama Rajamala, artinya raja segala macam pe­nyakit atau malapetaka. la dikenal di Surakarta sebagai tokoh dalam jagad pewayangan. Tubuhnya besar. Dadanya ditumbuhi bulu-bulu lebat, demikian juga . Wajahnya menakutkan karena ia bertaring. Taring itu tampak keluar dari sisi bibir­nya. Tokoh Rajamala biasanya muncul dalam lakon Kongso Menyabung Ayam. Akan tetapi, yang berlaga sebenarnya bukan dua ekor ayam jantan, melainkan manusia. Mereka adalah Rajamala yang terkenal sakti dan kejam, melawan Bima, ksatria dari keluarga Pandawa. Walaupun Bima juga memiliki tubuh besar, kuat, dan sakti, perkelahian mereka hampir tidak seimbang. Sebab, setiap kali Bima berhasil mendarat­kan pukulan hebat hingga Rajamala tersungkur ke tanah, ia langsung disiram air sendang (semacam kolam alam yang jernih airnya) oleh pembantunya. Segera si raja penyakit bangkit kembali, bahkan lebih kuat. Tidak mengherankan jika Bima mulai lelah. Melihat keadaan yang membahayakan ini, Krisna, penasihat pemerintahan keluarga Pandawa, segera memberi isyarat kepada Arjuna, adik iparnya, untuk mencelupkan keris pusakanya, Pulanggeni, ke dalam sendang itu. Ketika untuk kesekian kalinya Rajamala tersungkur, pembantunya segera menyiramnya de­ngan air dari sendang itu. Kali ini, Rajamala tidak segera bangkit, malahan mengerang kesakitan dan akhirnya mengembuskan napasnya yang peng­habisan.

Seperti apakah kira-kira bentuk wajah Rajamala? Jika kalian pergi ke Museum Keraton Surakarta, akan melihat wajah itu. Akan tetapi, Rajamala di museum itu hanya berwujud kepala dengan ukuran besar sekali. Pada mulanya kepala itu sebagai canthik (hiasan), biasanya ada di haluan dan buritan sebuah perahu.

Menurut beberapa abdi dalem (pegawai keraton), kepala Rajamala itu diresmikan tanggal 19 Juli 1811, yang dipasang pada sebuah perahu dengan luas 58,9 x 6,5 meter persegi. Perahu itu kemudian diberi nama Kiai Rajamala. Menurut sebuah sumber yang tersimpan di keraton, kepala raksasa itu dibuat oleh seorang tukang kayu ahli ukir atas perintah Raja Paku Buwono IV. Gagasan pembuatan perahu dan canthik itu karena adanya persembahan berupa perahu dari Gubernur Jenderal Daendels dengan canthik berupa perawan Belanda di haluan maupun di buritan kapal. Ketika perahu Kiai Rajamala selesai dibuat, perahu persembahan Daendels dan Kiai Rajamala segera dinikahkan dengan upacara lengkap sebagaimana biasanya pernikahan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Upacara itu dilaksanakan di Sungai Kedhung Penganten.

Mengapa perahu itu diberi canthik Rajamala? Se­orang punggawa keraton dapat menceritakan riwayat­nya dengan panjang lebar. Alkisah, pada suatu hari Raja Paku Buwono IV tengah bersedih hati karenapermaisuri beliau, Ratu Kencana Wungu, tidak me­na.mpakkan kegembiraan seperti biasanya. Tentu saja, jika seorang ibu menunjukkan wajah bersungut­sungut, suasana di dalam rumah menjadi tidak ber­gairah. Keadaan ini berlangsung beberapa minggu sehingga raja pun putus asa. Karena sedih, sering hingga jauh malam raja tidak dapat tidur. Akan tetapi, pada suatu hari, selepas ayam berkokok pada pukul tiga pagi, raja terlena beberapa menit. Pada saat yang demikian singkat itu, raja merasa ditemui seorang tua yang arif dan bijaksana. Orang tua itu mengingatkan raja akan kisah pewayangan sebelum kelahiran Pandawa, yaitu cerita percintaan antara Dewi Durgandini dan Raja Palasara.

Karena dari ketiak Durgandini muncul bau amis yang tajam sekali, para dewa mengusulkan agar ia menjadi tukang perahu. Tugasnya membantu orang­orang desa yang ingin. menyeberang dari satu tepi sungai ke tepi yang lain. Suatu pagi, tibalah seorang kelana, elok parasnya, bernama Palasara. la minta agar Durgandini menyeberangkannya ke tepi sungai di seberang sana. Seperti biasa, Durgandini me­nerima tugas itu dengan senang. Ketika perahu tiba di tengah sungai, arus menjadi deras. Air menghem­pas perahu dan sebagian menyiram tubuh Durgan­dini. Tiba-tiba, tubuh Durgandini bersinar. Bau tubuh­nya yang amis lenyap seketika berganti dengan bau yang harum mewangi. Mencium bau harum semerbak dari tubuh Durgandini yang basah kuyup, Palasara merasa tertarik. Wajah Durgandini juga bertambah cantik. Timbullah hasrat Palasara untuk meraba le­ngan Durgandini. Akan tetapi, begitu tangan Palasara menyentuh lengan perawan cantik itu, perahu yang ditumpanginya pecah. Sebagian perahu berubah menjadi manusia raksasa. Wajah raksasa itu me­nakutkan. la bernama Rajamala.

Lima menit terlena dalam mimpi, Raja Paku Buwono IV terbangun. Keesokan harinya, beliau se­gera membicarakan kemungkinan dibuatnya perahu dengan canthik kepala Rajamala. Gagasan itu di­perkuat oleh persembahan perahu dari Daendels.

Untuk melaksanakan gagasan itu, seorang tukang kayu dipanggil. la diutus untuk mencari kayu dari pohon jati, di desa Danalaya, di wilayah Wonogiri. Akan tetapi, tatkala pohon jati yang dimaksud akan ditebang, para penebang terserang penyakit. Ter­nyata, penyakit itu disebarkan oleh bocah bajang (anak kerdil yang memiliki tenaga gaib, tidak dapat dilihat dengan mata biasa). Dengan berbagai upaya, akhirnya bocah bajang itu dapat dikalahkan. Pohon jati dapat ditebang dan pembuatan perahu serta canthik-nya dapat dimulai.

Agar pelaksanaannya terlepas dari gangguan, Raja Paku Buwono IV memerintahkan Adipati Anom untuk memimpin. Akan tetapi, setiap hari Adipati Anom bertanya-tanya, untuk apa Raja Paku Buwono IV memerintahkan pembuatan perahu sebesar itu. la menduga, mungkin karena jengkel terhadap Ratu Kencana Wungu yang berasal dari Madura. Mungkin, permaisuri akan dikembalikan ke tempat asalnya. Dengan mengikuti arus Bengawan Solo, perahu Raja­mala yang membawa Kencana Wungu akan sampai di pulau itu. Akan tetapi, jika hal ini dilaksanakan dapat-berakibat buruk. Raja Madura akan tersinggung dan perang dapat meletus. Oleh karena itu, Adipati Anom merasa perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan paling buruk. Kepada seorang empu (pembuat keris) bernama Ki Brojoguna, Adipati Anommemerintahkan pembuatan sebilah keris panjang, kuat, dan sakti.

Akan tetapi, begitu keris selesai dibuat, Adipati Anom terkejut karena perahu Rajamala ternyata tidak untuk mengembalikan Ratu Kencana Wungu. Di luar dugaan, seperti telah diceritakan pada awal cerita, upacara pernikahan dilaksanakan. Ratu Kencana Wungu tidak hanya mendengar berita adanya upa­cara itu, tetapi dia juga hadir di tengah para tamu.

Para tamu terheran-heran karena selama upacara berlangsung bau wangi semerbak memenuhi seluruh tempat upacara pernikahan berlangsung. Makin dekat dengan tempat duduk Ratu Kencana Wungu, bau harum makin tercium kuat. Dalam waktu sekejap dapat diketahui bahwa bau itu berasal dari tubuh Ratu Kencana Wungu. Tidak hanya itu, wajah Ratu pun berseri-seri karena hatinya terhibur. Rajamala yang di da!am cerita wayang berwatak jahat dan bengis, telah diubah menjadi “raja” yang meng­hilangkan semua “mala”.

Setelah mengetahui peristiwa luar biasa itu, Adipati Anom merasa menyesal. Dugaannya ternyata tidak benar sama sekali. Antara bayangan dan kejadian bertolak belakang. Tidak mengherankan jika hatinya sedih, bahkan pikirannya dibayangi ketakutan akan marahnya Raja Paku Buwono IV jika mengetahui semuanya itu. Akan tetapi, sebagai seorang ksatria yang terdidik bertindak jujur dan berhati bersih, Adipati Anom akhirnya menghadap Raja Paku Buwono IV dan menghaturkan semua yang sudah dilakukannya. la mengatakan, jika tindakannya di­anggap salah, ia siap dihukum berat. Akan tetapi, Raja Paku Buwono IV malahan tersenyum, ditepuk­tepuknya bahu Adipati Anom sambil diberi pujian. Mengapa? Sebab Adipati Anom telah menjalankan tugasnya dengan baik dan berani melaporkan semua yang telah dilakukannya walaupun dengan risiko akan dihukum berat.

Mulai saat itu, suasana keraton kembali ceria ka­rena Ratu Kencana Wungu telah bergembira kembali. Tidak hanya dari tubuhnya bau wangi itu menyebar ke seluruh negeri, tetapi juga dari dalam lubuk hati­nya. Rajamala sebagai simbol kedengkian dan ke­jahatan telah diubah menjadi penanda ketenteraman dan kasih sayang.

Kesimpulan

Walaupun nama Paku Buwono IV ada da/am sejarah, cerita tentang canthik Rajamala lebih banyak me­rupakan legenda. Dari legenda ini ada tiga hikmah dapat dipetik. Pertama, kejujuran dan kesiapsiagaan Adipati Anom pantas dicontoh. Kedua, Paku Buwono IV sebagai raja menunjukkan kebijaksanaannya yang arif. Ketiga, ada isyarat bahwa kejahatan dapat di­kalahkan dengan kasih. Jelasnya, melalui upacara pernikahan, Rajamala tidak lagi menjadi simbol ke­dengkian. Dengan wajahnya yang buruk, Rajamala dapat membuat duka Ratu Kencana Wungu berubah menjadi ceria.

About these ads

Filed under: Tak Berkategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: